Kemeriahan Festival Gunung Slamet (FGS) ke-9 memasuki babak krusial pada hari kedua, Sabtu (4/7/2026). Masyarakat Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, kembali meneguhkan komitmen pelestarian tradisi melalui kirab budaya air Tuk Sikopyah yang melibatkan 99 lodhong bambu dan satu kendi pratolo.

Prosesi adat ini dimulai dengan pengambilan air secara sakral oleh para tokoh adat di Tuk Sikopyah, yang terletak di Dusun Kaliurip. Air dari mata air tersebut dipercaya masyarakat setempat sebagai simbol utama kemakmuran dan keberlangsungan ekosistem di lereng Gunung Slamet.

Setelah diambil, air tersebut kemudian dimasukkan ke dalam 99 wadah bambu tradisional yang diarak oleh para pemuda-pemudi desa menuju panggung utama. Sesampainya di lokasi penghormatan, dilakukan rangkaian doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas berkah alam yang melimpah.

Puncak dari kegiatan ini adalah pembagian air dari kendi pratolo kepada warga setempat dan para pengunjung festival. Ritual tahunan yang konsisten dilakukan ini diharapkan dapat terus mempererat ikatan budaya serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam di kawasan Gunung Slamet.