Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digagas pemerintah untuk memperkuat pengelolaan ekonomi desa kini tengah menjadi sorotan tajam. Hal ini menyusul insiden meninggalnya lima peserta dalam rangkaian Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Peristiwa tersebut memicu perdebatan publik mengenai urgensi evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur pelatihan, terutama terkait aspek keselamatan peserta.
Menanggapi fenomena ini, pakar psikologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), M. Arif Rizqi, menekankan bahwa kesehatan mental peserta sama krusialnya dengan ketahanan fisik. Menurutnya, tekanan psikologis yang ekstrem akibat adaptasi lingkungan baru dapat memicu penurunan daya tahan tubuh secara drastis. Stres yang tidak terkelola dengan baik akan mempercepat kelelahan fisik, menciptakan risiko fatal bagi individu yang belum terbiasa dengan pola pelatihan intensitas tinggi ala militer.
Arif menyoroti perbedaan latar belakang peserta SPPI yang berasal dari masyarakat umum dibandingkan dengan prajurit profesional yang telah melalui pembinaan bertahap. "Respons setiap individu terhadap tekanan itu berbeda-beda. Oleh karena itu, program pembinaan tidak seharusnya dipukul rata tanpa mempertimbangkan kemampuan adaptasi masing-masing peserta," jelas Arif, Sabtu (11/7).
Sebagai solusi konkret, Arif mengusulkan kewajiban screening psikologis sebagai bagian integral dari proses rekrutmen. Asesmen ini bertujuan untuk memetakan tingkat kecemasan dan resiliensi tiap individu sebelum memasuki masa karantina. Hasil dari pemetaan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar bagi penyelenggara untuk menyesuaikan intensitas latihan yang lebih terukur dan manusiawi.
Lebih lanjut, ia mendorong pelibatan lintas profesi—mulai dari psikolog, psikiater, hingga tenaga medis—dalam menyusun struktur kurikulum pelatihan. Pengawasan yang intensif di lapangan pun dianggap vital agar setiap penurunan kondisi fisik atau psikologis peserta dapat dideteksi sedini mungkin sebelum memicu insiden yang tidak diinginkan.
Di tengah proses investigasi yang masih dilakukan oleh Kementerian Pertahanan, Arif mengajak masyarakat untuk tetap menjaga objektivitas. Ia mengimbau agar kritik publik disampaikan secara konstruktif melalui saluran resmi, sembari mengedepankan empati mendalam bagi keluarga korban yang terdampak oleh tragedi ini.