Di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran mengenai tergesernya peran manusia dalam sektor teknologi informasi (TI) ditepis oleh para akademisi. Profesor Madya Vu Viet Vu, Kepala Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas CMC, menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan instrumen pendukung yang justru memperluas cakrawala industri.

Hampir seluruh sektor vital, mulai dari perbankan, manufaktur, hingga pengembangan kota pintar, kini menjadikan infrastruktur digital sebagai tulang punggung operasional. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten di bidang TI terus menanjak, seiring dengan akselerasi transformasi digital yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Namun, gelar akademis saja dinilai tidak cukup untuk memenangkan persaingan kerja. Para calon profesional muda dituntut memiliki kemampuan adaptasi tinggi, kefasihan berbahasa asing, serta keterampilan kerja tim yang baik. Fondasi akademik yang kuat, terutama di bidang matematika dan sains, tetap menjadi syarat mutlak bagi mereka yang ingin terjun di bidang Rekayasa Perangkat Lunak maupun Keamanan Siber.

Universitas kini mulai mengintegrasikan sistem asisten berbasis AI ke dalam metode pengajaran untuk meningkatkan efektivitas belajar. Langkah ini bertujuan agar mahasiswa lebih proaktif dan terbiasa berinteraksi dengan teknologi yang akan mereka temui di dunia kerja nanti. Universitas CMC sendiri mencatat kenaikan target penerimaan mahasiswa baru yang signifikan sebagai respons atas tingginya permintaan industri.

Bagi calon mahasiswa yang hendak memilih jurusan, disarankan untuk melakukan riset mendalam terkait kurikulum dan kesesuaian minat sebelum menentukan pilihan institusi pendidikan. Memilih lingkungan belajar yang tepat, yang mampu memfasilitasi pengembangan diri dan praktik langsung, adalah kunci utama dalam membangun karier yang berkelanjutan di era disrupsi teknologi.