Universitas Syiah Kuala (USK) memperluas cakrawala riset internasionalnya dengan menjajaki kemitraan strategis bersama South China Sea Fisheries Research Institute, Chinese Academy of Fishery Sciences, Tiongkok. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan teknologi konservasi laut melalui proyek bertajuk China–Indonesia Marine Ecological Ranching Technology Cooperation Project yang akan bergulir dari Januari 2027 hingga Desember 2029.
Inisiasi kolaborasi ini bermula dari undangan peneliti utama proyek, Dr. Yuan Huarong, kepada akademisi USK, Prof. Ir. Muhammad Irham. Rencananya, proyek tersebut akan mengimplementasikan konsep marine ecological ranching di perairan Sumatera, dengan Aceh sebagai lokasi demonstrasi utama. Konsep ini menggabungkan konservasi ekosistem dengan upaya peningkatan produktivitas perikanan secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat pesisir.
Berbagai langkah strategis telah disiapkan, mulai dari perencanaan kawasan konservasi, pembangunan terumbu buatan, hingga rehabilitasi ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Selain aspek teknis, program ini juga mencakup pemantauan ekologi secara berkala serta pelatihan intensif bagi pemangku kepentingan lokal guna memastikan efektivitas pengelolaan sumber daya laut di lapangan.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Perencanaan, dan Bisnis USK, Dr. Ramzi Adriman, menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan langkah nyata kampus dalam memperkuat riset bertaraf internasional. Menurutnya, potensi kelautan yang dimiliki Aceh memerlukan sentuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi agar dapat berkontribusi maksimal terhadap pengembangan ekonomi biru atau blue economy di Indonesia.
Dengan dukungan sumber daya akademik yang mumpuni, USK optimistis kolaborasi ini akan menciptakan model pengelolaan laut yang aplikatif. Lebih dari sekadar pertukaran riset, proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut untuk masa depan.