Momen kebersamaan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6), menuai sorotan luas. Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah, menilai interaksi hangat tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi dari persahabatan mendalam yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Menurut Said, relasi antara kedua tokoh bangsa ini telah teruji oleh waktu, bahkan sejak keduanya menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2009. Meskipun dalam dinamika politik nasional terkadang berada pada kubu yang berbeda, hubungan personal keduanya tetap terjaga dengan integritas yang tinggi.

"Persahabatan mereka kokoh dan melampaui urusan politik praktis. Ini adalah bukti nyata bahwa berpolitik dapat dilakukan dengan cara yang elegan, yakni berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya," ujar Said melalui pernyataan resminya pada Selasa (2/6).

Lebih lanjut, Said menyoroti kepercayaan Presiden Prabowo kepada Megawati yang tetap memegang peran penting di BPIP dan BRIN. Langkah ini, lanjut Said, membuktikan bahwa Prabowo sangat menghargai kapasitas dan kenegarawanan Megawati, terlepas dari posisi PDI Perjuangan yang kini memilih menjadi mitra kritis atau penyeimbang bagi pemerintahan.

Keteladanan ini pun diyakini menular ke level legislatif, di mana Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi Gerindra di DPR RI dapat tetap bersinergi meski memiliki perbedaan pandangan. Hal ini menciptakan budaya politik yang sehat dan saling menghargai di antara para elit nasional.

Momen ikonik bergandeng tangan di Gedung Pancasila tersebut dipandang Said sebagai simbol bahwa nilai-nilai Pancasila telah menjadi perekat utama hubungan keduanya. Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, Prabowo dan Megawati telah menunjukkan bahwa persahabatan sejati tetap bisa tumbuh subur di jalur politik yang berbeda.