Sebuah rekaman video berdurasi singkat yang menampilkan aktivitas erupsi hebat Gunung Anak Krakatau (GAK) belakangan ini menyita perhatian publik di media sosial. Dalam tayangan berdurasi 10 detik tersebut, terlihat material vulkanik membumbung tinggi dari kawah disertai semburan api di tengah malam, yang memicu kekhawatiran luas di kalangan warganet.
Menanggapi kehebohan tersebut, Andi Suwardi selaku petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau secara tegas membantah keaslian konten tersebut. Ia menegaskan bahwa visual yang beredar tidak merepresentasikan kondisi terkini dari gunung api yang berlokasi di Selat Sunda tersebut.
Berdasarkan data pemantauan, aktivitas erupsi terakhir tercatat pada Jumat pukul 15.00 WIB. Sejak saat itu, tidak terpantau adanya letusan lanjutan yang memiliki intensitas serupa dengan apa yang tampak dalam video viral itu. Meski demikian, Andi mengingatkan bahwa status Gunung Anak Krakatau memang masih berada pada Level III atau Siaga.
Sejalan dengan imbauan tersebut, Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari, meminta masyarakat agar tidak termakan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Ia menekankan pentingnya merujuk pada kanal resmi seperti Badan Geologi, BMKG, maupun BPBD untuk mendapatkan pembaruan situasi terkini guna mencegah kepanikan di tengah masyarakat.
Pihak kepolisian juga telah meningkatkan langkah antisipasi dengan mengaktifkan Satgas Aman Nusa serta memperkuat patroli rutin melalui Direktorat Polairud di wilayah perairan Selat Sunda. Sinergi lintas sektoral antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus diperketat sebagai bentuk kesiapsiagaan darurat.
Hingga saat ini, otoritas terkait tetap memberlakukan zona larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah. Seluruh elemen masyarakat, termasuk nelayan dan wisatawan, diimbau untuk mematuhi rekomendasi tersebut demi mengutamakan keselamatan jiwa di tengah status Siaga gunung berapi tersebut.