Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh peredaran video berdurasi 12 detik yang menarasikan peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam rekaman tersebut, tampak pemandangan letusan gunung berapi disertai semburan api besar yang direkam dari atas kapal. Unggahan ini sempat memicu kepanikan dan perdebatan di kolom komentar warganet.

Menanggapi keresahan tersebut, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi memberikan klarifikasi. Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa video yang beredar luas itu adalah informasi palsu atau hoaks. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada konten yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada kanal resmi seperti MAGMA Indonesia atau PVMBG.

Hasil penelusuran teknis menunjukkan adanya sejumlah kejanggalan dalam video tersebut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan bahwa visual gunung dalam video tidak sesuai dengan karakteristik asli Gunung Anak Krakatau. Selain itu, terdapat indikasi kuat bahwa rekaman tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), di mana layar ponsel yang digunakan dalam video tidak sinkron dengan peristiwa letusan yang ditampilkan.

Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menambahkan bahwa kondisi aktivitas vulkanik di lapangan jauh berbeda dari apa yang tersaji di media sosial. Berdasarkan data pemantauan di Pos Pengamatan, erupsi yang terjadi pada awal Juli 2026 hanya berupa lontaran abu dengan ketinggian sekitar 200 meter, bukan letusan besar disertai semburan api seperti dalam video manipulatif tersebut.

Meskipun video tersebut dipastikan palsu, pihak otoritas tetap menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau saat ini berada di Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diimbau untuk mematuhi larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah demi keselamatan bersama.