Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi memberikan klarifikasi terkait beredarnya rekaman video di media sosial yang menarasikan peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit tersebut, terlihat dua orang sedang merekam aktivitas vulkanik disertai kilatan cahaya dari atas sebuah kapal di tengah laut.

Pihak otoritas menegaskan bahwa narasi yang menyertai visual tersebut tidak benar alias hoaks. Masyarakat diminta untuk lebih bijak dan tidak turut menyebarluaskan konten yang belum terverifikasi kebenarannya demi mencegah kepanikan di tengah masyarakat.

Berdasarkan data pemantauan tim di lapangan, aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat hanya mengalami dua kali erupsi kecil baru-baru ini. Erupsi terjadi pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB, dengan tinggi kolom abu yang teramati mencapai 200 meter di atas puncak gunung.

Badan Geologi kembali menegaskan larangan bagi nelayan, pendaki, maupun wisatawan untuk beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah guna menghindari bahaya lontaran material pijar, awan panas, hingga hujan abu. Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diimbau agar tetap tenang dan tidak termakan isu menyesatkan terkait potensi tsunami.

Segala informasi terkini dan akurat mengenai aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau hanya dirilis melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, serta aplikasi MAGMA Indonesia. Pemerintah setempat juga mendorong warga untuk terus memantau perkembangan situasi melalui arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah masing-masing.