Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi membantah kebenaran video yang menarasikan terjadinya erupsi besar di Gunung Anak Krakatau. Rekaman berdurasi kurang dari satu menit yang sempat viral tersebut dipastikan bukan merupakan dokumentasi aktivitas terkini dari gunung api yang terletak di Selat Sunda itu.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa setelah dilakukan verifikasi teknis, rekaman yang memperlihatkan letusan disertai kilatan cahaya tersebut tidak sesuai dengan data riil di lapangan. Ia menegaskan bahwa seluruh informasi valid mengenai aktivitas vulkanik hanya dirilis melalui kanal resmi pemerintah, seperti PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia.

Berdasarkan catatan resmi, Gunung Anak Krakatau memang sempat mengalami dua kali erupsi kecil pada Kamis (2/7) dan Jumat (3/7), namun tinggi kolom abu hanya mencapai sekitar 200 meter di atas puncak. Pihaknya pun meluruskan isu terkait perluasan jarak aman menjadi 5 kilometer, dan menegaskan bahwa radius rekomendasi tetap berada pada 3 kilometer dari pusat letusan karena status gunung masih berada di Level III (Siaga).

Lana Saria juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu liar yang mengaitkan aktivitas gunung dengan potensi tsunami. Masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan konten yang belum terverifikasi serta tetap mengikuti arahan dari pihak berwenang di daerah setempat.