Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi tegas terkait beredarnya rekaman video di media sosial yang memperlihatkan erupsi besar Gunung Anak Krakatau. Video yang menampilkan aksi perekaman letusan gunung api dari atas kapal tersebut dipastikan bukan merupakan peristiwa yang terjadi saat ini.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan verifikasi mendalam terhadap rekaman tersebut. Hasilnya, video berdurasi singkat yang memuat visualisasi letusan hebat disertai kilatan cahaya itu tidak selaras dengan data pemantauan aktivitas gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut.

Berdasarkan catatan resmi, Gunung Anak Krakatau memang menunjukkan aktivitas vulkanik, namun intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan narasi dalam video hoaks tersebut. Tercatat dua kali erupsi pada awal Juli lalu, di mana kolom abu hanya mencapai ketinggian 200 meter dari puncak, bukan letusan besar sebagaimana terlihat dalam tayangan viral tersebut.

Terkait rumor perluasan wilayah larangan, Lana juga membantah kabar yang menyebut radius bahaya telah ditingkatkan menjadi 5 kilometer. Pihaknya menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga), dengan rekomendasi zona bahaya yang tetap konsisten pada radius 3 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta untuk tetap waspada namun tidak panik dalam menanggapi berbagai isu yang berkembang, terutama terkait potensi tsunami yang tidak berdasar secara ilmiah. Badan Geologi mengimbau warga untuk hanya merujuk pada informasi dari kanal resmi PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia demi mendapatkan data yang akurat dan terverifikasi.