Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, secara resmi memperkenalkan teknologi Pengolahan Sampah Organik (Lahsamor) hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Denpasar, Bali. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi efektif dalam menekan volume sampah rumah tangga yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) di Pulau Dewata.
Dalam kegiatan Apel Siaga Pilah Sampah yang berlangsung di Lapangan Renon, Zulkifli menegaskan bahwa kunci utama penyelesaian masalah sampah adalah kedisiplinan pemilahan di tingkat hulu. Alat Lahsamor dirancang khusus untuk mempermudah masyarakat dalam mengelola sampah organik harian dengan sistem yang ringkas dan efisien.
Teknologi Lahsamor memiliki keunggulan operasional dibandingkan metode pengomposan konvensional. Alat ini memungkinkan pengguna memasukkan sampah organik seberat 0,5 hingga 1 kilogram setiap hari, kemudian cukup memutar tuas untuk memproses kompos. Hasil kompos pun dapat keluar secara otomatis tanpa memerlukan campuran bahan tambahan maupun pengambilan manual yang merepotkan.
Zulkifli berharap inovasi ini dapat dikembangkan ke skala yang lebih besar, seperti untuk kebutuhan sekolah atau perkantoran, dengan kapasitas mencapai 50 kilogram per hari. Ia menekankan bahwa Lahsamor bukanlah pengganti tradisi pengelolaan sampah seperti 'teba' di Bali, melainkan alternatif pendukung bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan di pekarangan rumah.
Selain mendorong penggunaan Lahsamor, pemerintah juga berencana mengimplementasikan teknologi Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali mulai 8 Juli 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi darurat pengelolaan sampah di berbagai daerah, guna menghindari risiko bahaya seperti kebakaran atau kecelakaan di lokasi penumpukan sampah terbuka (open dumping).