Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa mitigasi risiko kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat dilakukan secara efektif melalui penerapan teknologi pengolahan sampah yang tepat sasaran. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menyatakan bahwa tidak ada solusi tunggal yang bisa diterapkan secara seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia mengingat perbedaan karakteristik sampah dan kondisi geografis tiap daerah.
Wahyu menjelaskan bahwa efektivitas pengelolaan sampah sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dalam menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan nyata. Beberapa variabel krusial yang harus diperhitungkan mencakup skala timbulan sampah, infrastruktur yang tersedia, kemampuan pembiayaan jangka panjang, hingga potensi pasar dari produk turunan hasil pengolahan sampah.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah program pengolahan sampah tidak hanya berhenti pada pengadaan peralatan. Komponen vital lainnya meliputi kompetensi operator yang mumpuni, sistem operasional dan pemeliharaan yang disiplin, serta kejelasan alur penanganan residu. Dengan pendekatan sistemik ini, volume sampah yang menumpuk di TPA dapat dikurangi secara signifikan, yang pada akhirnya menekan potensi insiden kebakaran.
Sebagai solusi praktis, Wahyu merinci bahwa pengelompokan jenis sampah menjadi kunci utama. Sampah organik, misalnya, disarankan untuk dikelola melalui metode pengomposan, biodigester, atau biokonversi. Sementara itu, material yang masih memiliki nilai ekonomis tinggi harus dipilah sejak awal untuk dikembalikan ke rantai ekonomi daur ulang, sehingga tidak membebani kapasitas TPA.