Gelombang aksi jual melanda bursa saham di seluruh kawasan Asia pada perdagangan pagi tanggal 13 Juli. Tren negatif ini didorong oleh koreksi tajam pada sektor teknologi yang selama ini menjadi penopang utama pasar, sekaligus mencerminkan keresahan investor terhadap valuasi perusahaan yang dinilai sudah terlalu tinggi.
Pasar Seoul, Korea Selatan, mencatat penurunan paling signifikan dengan indeks Kospi anjlok hingga 5,0%. Tekanan ini diperparah oleh merosotnya harga saham raksasa produsen cip, SK Hynix, sebesar 10%. Angka ini memperpanjang tren negatif perusahaan tersebut yang telah kehilangan sepertiga dari nilai kapitalisasi pasarnya hanya dalam waktu sebulan. Kondisi serupa juga dialami Samsung Electronics, yang mencatatkan pelemahan saham lebih dari 6%.
Sentimen negatif tersebut turut menjalar ke pusat keuangan lain di Asia. Di Tokyo, indeks Nikkei 225 tergerus 1,1%, sementara bursa Shanghai, Singapura, hingga Jakarta turut berada di zona merah. Di sisi lain, pasar Hong Kong, Taipei, dan Manila menunjukkan daya tahan dengan melawan arus pelemahan yang terjadi di sebagian besar wilayah regional.
Selain volatilitas di sektor teknologi, penguatan mata uang dolar AS juga turut menekan pasar global. Investor kini beralih ke aset yang lebih aman di tengah spekulasi mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang diproyeksikan akan naik untuk meredam laju inflasi. Yen Jepang dan mata uang utama lainnya terpantau melemah terhadap dolar AS.
Para pelaku pasar kini menanti laporan kinerja keuangan emiten besar yang akan dirilis pekan ini sebagai indikator utama. Laporan dari perusahaan raksasa seperti TSMC, ASML, serta sejumlah bank besar di Wall Street diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek industri teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), di tengah ketidakpastian ekonomi global.