Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Anwar Abbas, menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) merupakan fondasi utama bagi Indonesia untuk bertransformasi dari negara berkembang menjadi kekuatan global. Menurutnya, kemampuan ini menjadi instrumen krusial dalam menghadapi ketatnya persaingan ekonomi dan diplomasi politik internasional di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Buya Anwar dalam rangkaian Rakernas, Seminar Internasional, serta forum kaderisasi yang dihelat oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI di Jakarta. Ia menyoroti bahwa meski Indonesia memiliki modal sosial, budaya, dan keagamaan yang kuat, aset tersebut belum cukup tanpa dukungan kemajuan teknologi yang mumpuni.

"Penguasaan teknologi adalah pintu masuk menuju kemandirian ekonomi. Tanpa penguasaan di sektor tersebut, posisi tawar Indonesia dalam percaturan politik dunia akan sulit untuk diperkuat," ujar Buya Anwar. Ia menegaskan bahwa ada korelasi tak terpisahkan antara kecanggihan teknologi, ketahanan ekonomi, dan pengaruh sebuah bangsa di panggung internasional.

Menghadapi momentum satu abad kemerdekaan Indonesia, Buya Anwar mendesak agar sistem pendidikan nasional mulai berorientasi pada pengembangan daya inovasi, rasionalitas, dan literasi teknologi. Lembaga pendidikan dinilai harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya sekadar menguasai materi akademis, tetapi juga mampu melakukan terobosan kreatif yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Lebih lanjut, ia mendorong terciptanya budaya progresif di ekosistem pendidikan guna mengubah posisi Indonesia dari sekadar konsumen teknologi menjadi produsen inovasi. Diharapkan, rekomendasi dari forum yang digelar KPK MUI ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi pemerintah dalam memperkuat daya saing sumber daya manusia nasional demi mewujudkan cita-cita bangsa yang disegani dunia.