Fenomena praktik pesugihan yang dikaitkan dengan lokasi seperti Gunung Kawi kembali mencuat di tengah masyarakat. Terkait hal tersebut, pendakwah kondang Buya Yahya memberikan pandangan kritis mengenai istilah 'pesugihan putih' yang sering disalahartikan sebagai jalan pintas spiritual untuk mencapai kekayaan instan.

Dalam sebuah sesi kajian, Buya Yahya dengan tegas menyatakan bahwa konsep pesugihan putih yang ia maksud sama sekali tidak melibatkan ritual klenik atau bantuan makhluk halus. Menurutnya, hakikat pesugihan putih adalah kombinasi antara profesionalisme dalam berbisnis, modal yang diperoleh secara halal, serta ketekunan dalam beribadah dan bersedekah.

"Jujur dalam berdagang, menggunakan modal yang halal, senantiasa memohon kepada Allah, dan gemar berbagi. Jika itu yang dimaksud, maka itulah ilmu pesugihan putih yang sebenarnya," ujar Buya Yahya dalam penjelasannya.

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa keinginan untuk menjadi kaya bukanlah sebuah dosa, selama niat utamanya adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan sesama. Seseorang yang bekerja keras dengan motivasi agar mampu bersedekah seperti orang saleh lainnya justru dinilai telah mendapatkan nilai pahala sejak ia mulai berusaha.

Buya Yahya berpesan agar masyarakat tidak tergiur dengan iming-iming kekayaan instan melalui praktik yang bertentangan dengan ajaran agama. Ia menekankan bahwa keberkahan rezeki hanya akan datang dari usaha yang dibarengi dengan integritas, kejujuran, dan doa yang konsisten kepada Sang Pencipta.