PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) mengawali kiprahnya di pasar modal Indonesia dengan catatan impresif pada perdagangan perdananya, Rabu (8/7/2026). Saham perusahaan ini langsung melesat 24,43% ke posisi Rp550 per lembar, menyentuh batas auto reject atas (ARA) tak lama setelah pembukaan sesi pasar.

Aksi korporasi ini merupakan bagian dari penawaran umum perdana saham (IPO) di mana perusahaan melepas 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06% dari total modal ditempatkan dan disetor. Dengan rentang harga penawaran Rp400 hingga Rp500, perseroan diperkirakan berhasil mengumpulkan dana segar mencapai Rp307,5 miliar.

Manajemen BACH menegaskan bahwa perolehan modal dari IPO ini akan difokuskan pada penguatan struktur finansial dan ekspansi usaha. Rencananya, 70% dana akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk pengadaan genset demi memenuhi tingginya permintaan pasar. Sementara itu, 30% sisanya akan digunakan untuk melunasi sebagian utang bank guna menekan tingkat leverage perseroan.

Kinerja fundamental perseroan sepanjang 2025 menjadi pendorong optimisme investor, di mana laba bersih tercatat melonjak tajam hingga 97,5% menjadi Rp155 miliar. Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh pendapatan yang naik 40% menjadi Rp1,73 triliun, yang ditopang oleh segmen penjualan dan penyewaan genset serta kontrak pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi jangka panjang.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri selama dua dekade, BACH memiliki portofolio klien yang kuat, mulai dari sektor perbankan, energi, hingga perusahaan telekomunikasi besar seperti Indosat Ooredoo Hutchison dan Huawei. Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan hingga menembus angka Rp3 triliun pada tahun 2030, didorong oleh efisiensi operasional dan penguatan bisnis utama di sektor infrastruktur digital nasional.