Langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengumpulkan para mantan presiden, mantan menteri luar negeri, hingga ketua umum partai politik baru-baru ini menyita perhatian publik. Di tengah memanasnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, pertemuan ini dinilai bukan sekadar respons diplomasi, melainkan sebuah strategi manajemen risiko politik yang matang bagi pemerintahan dalam negeri.
Pengamat politik dari Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menyoroti bahwa geopolitik sering kali menjadi katalisator bagi tekanan ekonomi domestik. Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada fluktuasi harga energi global berisiko memicu inflasi dan beban fiskal negara. Dengan merangkul para negarawan dan pimpinan partai, Presiden Prabowo membangun "tameng politik" agar kebijakan ekonomi yang mungkin tidak populer nantinya dipahami sebagai keputusan kolektif, bukan kehendak sepihak.
Selain aspek ekonomi, pertemuan ini juga berfungsi untuk meredam spekulasi mengenai posisi Indonesia di tengah konstelasi global. Di tengah perdebatan publik terkait arah kebijakan luar negeri, kehadiran tokoh-tokoh senior memberikan pesan kuat bahwa keputusan strategis negara tetap berpijak pada pertimbangan kolektif yang luas, serta menjaga garis kepentingan nasional yang konsisten lintas generasi.
Lebih jauh, konsolidasi ini menjadi sinyal bahwa stabilitas domestik merupakan aset utama Indonesia di tengah dunia yang kian terfragmentasi. Menurut Arifki, keberanian dalam politik tidak hanya diuji dari cara mengambil posisi di kancah internasional, melainkan dari kemampuan pemerintah dalam mengelola konsekuensi domestik yang timbul akibat dinamika global tersebut.