Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara terus mengoptimalkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak hanya untuk memantau kondisi fisik, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam mendeteksi indikasi gangguan kesehatan jiwa. Sejauh ini, skrining terhadap 2,8 juta warga telah memetakan adanya gejala stres dan kecemasan pada kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumut, Hery Valona Bonatua Ambarita, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk menangani gejala psikologis sejak dini sebelum berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih berat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 1,2 persen populasi Indonesia rentan mengalami kecemasan situasional yang memerlukan intervensi edukasi serta terapi tepat waktu.

Hasil pemetaan di lapangan menunjukkan bahwa remaja menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kecemasan akibat tekanan akademis. Sementara itu, kelompok orang dewasa lebih banyak mengalami beban mental yang dipicu oleh problematika ekonomi dan tuntutan pemenuhan kebutuhan keluarga. Untuk merespons hal ini, pemerintah menargetkan skrining kesehatan jiwa bagi 22 ribu jiwa, dengan capaian saat ini telah menembus angka 13 ribu orang.

Selain upaya preventif, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga berkomitmen menghapus praktik pemasungan melalui layanan komprehensif. Melalui integrasi Universal Health Coverage (UHC) dan Program Berobat Gratis (PROBIS), pasien ODGJ kini mendapatkan akses pengobatan medis standar, termasuk layanan dokter spesialis jiwa, pemberian obat rutin, hingga rawat inap di rumah sakit tanpa terkendala biaya.

Hery menegaskan bahwa gangguan kesehatan jiwa, sama seperti penyakit kronis lainnya, memerlukan kepatuhan dalam pengobatan agar penderita dapat kembali beraktivitas secara produktif. Pihaknya mengimbau kepada keluarga untuk tidak melakukan tindakan pemasungan, melainkan segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan jiwa agar mendapatkan penanganan medis yang layak.