JAKARTA — Komisi X DPR RI mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperluas cakupan pengembangan sport science di tanah air. Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menegaskan bahwa riset olahraga tidak boleh berorientasi sebatas pada peningkatan performa fisik atlet semata, melainkan juga harus mampu menjawab kebutuhan krusial para atlet penyandang disabilitas.
Ledia menyoroti masih besarnya kesenjangan kualitas teknologi alat bantu yang mengintai atlet para Indonesia saat berlaga di kancah internasional. Pengamatan mendalam pada ajang Asian Para Games memperlihatkan bahwa atlet luar negeri telah didukung prostetik titanium yang sangat ringan dan kursi roda dinamis, sementara atlet nasional masih banyak yang mengandalkan alat berbobot relatif berat sehingga membatasi kelincahan gerak.
Kondisi serupa juga terjadi pada cabang olahraga sepak bola amputasi dan tenis meja kursi roda. Menurut Ledia, negara maju sudah mampu memproduksi alat penyangga yang dirancang secara khusus (customized) sesuai anatomi tubuh atlet. Hal ini menunjukkan pentingnya BRIN memfokuskan riset pada rekayasa material, desain ergonomis, hingga pembentukan standar alat bantu olahraga nasional yang ramah disabilitas.
Lebih jauh, Sekretaris Fraksi PKS ini menekankan bahwa olahraga modern kini sangat bergantung pada integrasi sains dan teknologi. Langkah BRIN dalam memajukan riset peralatan disabilitas tidak hanya berpeluang mendongkrak prestasi atlet para Indonesia di level global, tetapi juga berpotensi menggerakkan industri alat olahraga mandiri berdaya saing tinggi dalam negeri.