Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui Lembaga Penggerak Ekonomi Umat baru saja menggelar Focus Group Discussion (FGD) strategis bertajuk "Model Pengembangan Bisnis Pesantren Berkelanjutan". Pertemuan yang berlangsung di Aula Bank Syariah Indonesia (BSI) Region II Medan ini bertujuan merumuskan peta jalan bagi pondok pesantren untuk mencapai kemandirian ekonomi yang lebih kokoh dan profesional.

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari para pimpinan pondok pesantren, praktisi bisnis, Bank Indonesia, hingga lembaga perbankan syariah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah potensi besar yang dimiliki pesantren—seperti aset lahan dan sumber daya manusia—menjadi kekuatan ekonomi riil yang memiliki daya saing tinggi di pasar modern.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menekankan pentingnya transformasi digital bagi unit usaha di lingkungan pesantren. Menurutnya, pemanfaatan sistem pembayaran non-tunai dan platform digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk meningkatkan transparansi serta efisiensi operasional usaha milik pesantren.

Senada dengan hal tersebut, praktisi bisnis Bobby Umroh, Ph.D., menyoroti bahwa pesantren memiliki modal pasar internal yang sangat loyal. Ia menekankan bahwa kunci keberlanjutan bisnis terletak pada efektivitas penggunaan teknologi dalam mengelola produksi dan pemasaran, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan santri, tetapi juga mampu diserap oleh pasar yang lebih luas.

Sementara itu, inisiatif pengembangan ekonomi sirkular turut mencuat sebagai model masa depan. Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ilmi Murni, Dr. H. Dedi Masri, mengusulkan pemanfaatan limbah lingkungan pesantren untuk sektor produktif, seperti peternakan, yang hasilnya dapat kembali menjadi konsumsi santri. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi terbangunnya jejaring kemitraan antarpesantren di Sumatera Utara dalam skala nasional hingga internasional.