Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mendesak pemerintah untuk segera mempercepat pemerataan dan peningkatan fasilitas layanan operasi jantung anak di Indonesia. Langkah ini dinilai mendesak guna menekan angka kematian bayi akibat Penyakit Jantung Bawaan (PJB) yang diperkirakan merenggut sekitar 6.000 nyawa setiap tahunnya karena keterbatasan akses tindakan medis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari sekitar 4,8 juta kelahiran per tahun di tanah air, terdapat potensi 48.000 bayi lahir dengan kondisi PJB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.000 bayi membutuhkan tindakan operasi segera. Namun, kapasitas fasilitas kesehatan yang ada saat ini baru mampu menangani setengahnya, yakni sekitar 6.000 kasus saja per tahun.

Kesenjangan yang lebar antara kebutuhan penanganan medis dan ketersediaan layanan inilah yang menjadi sorotan utama legislatif. Menurut Netty, deteksi dini atau skrining kesehatan pada bayi baru lahir tidak akan efektif jika tidak diimbangi dengan kesiapan sarana kuratif seperti ruang operasi dan ketersediaan tenaga medis yang memadai.

Politisi PKS ini juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada sumber daya manusia kesehatan. Ia mendorong percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis jantung anak, serta tenaga penunjang khusus seperti perfusionis dan perawat jantung guna mengatasi ketimpangan pelayanan di berbagai daerah.

Terakhir, pembenahan sistem rujukan pasien juga dinilai krusial agar kendala geografis, birokrasi, maupun daftar antrean panjang tidak lagi menjadi penghalang bagi bayi penderita gangguan jantung untuk mendapatkan pertolongan darurat secara cepat dan merata.