Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (15/7/2026) siang. Kendati aktivitas seismik ini terpantau cukup signifikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memastikan belum ada dampak langsung yang mengarah ke pemukiman warga di sekitar lereng gunung.

Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, getaran aktivitas APG ini tercatat memiliki amplitudo maksimum sebesar 22 milimeter dengan durasi fase selama kurang lebih 3 menit 7 detik. Jarak luncuran awan panas tersebut secara visual sulit teramati secara langsung karena puncak gunung tertutup kabut tebal saat peristiwa terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa rekaman aktivitas awan panas mulai terdeteksi sekitar pukul 11.20 WIB dan kini kondisinya telah mereda. Ia mengonfirmasi bahwa masyarakat di lereng gunung masih beraktivitas dengan normal karena jarak aman pemukiman dari jalur luncuran masih terjaga.

Untuk mengantisipasi adanya potensi bahaya susulan, BPBD Lumajang menyiagakan personel Tim Reaksi Cepat (TRC). Langkah preventif ini disiapkan guna memitigasi risiko jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi aktivitas vulkanik yang mengarah ke pemukiman penduduk dalam radius delapan kilometer dari pusat kawah Semeru.

Selain ancaman langsung dari awan panas, bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin kini menjadi perhatian utama pihak berwenang. Material vulkanik berupa batuan dan pasir yang menumpuk di lereng atas Semeru rawan terbawa arus air apabila terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi di kawasan puncak. Oleh karena itu, masyarakat di sepanjang bantaran sungai yang berhulu di gunung diimbau untuk selalu waspada.

Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Semeru masih bertahan di Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat untuk mengosongkan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer. Masyarakat juga diminta menjauhi area bantaran sungai hingga jarak 500 meter demi menghindari ancaman perluasan aliran lahar dingin.