Apple kembali dihadapkan pada tantangan efisiensi biaya manufaktur untuk lini produk masa depan mereka. Berdasarkan laporan terbaru, biaya produksi atau Bill of Materials (BoM) untuk iPhone 18 Pro Max diperkirakan akan membengkak hingga US$300 atau sekitar Rp5,4 juta dibandingkan dengan biaya produksi seri pendahulunya.

Data yang dihimpun oleh Counterpoint Research menunjukkan bahwa kenaikan signifikan ini terutama didorong oleh integrasi komponen memori dengan kapasitas 12GB serta penggunaan System-on-Chip (SoC) berbasis teknologi 2 nanometer (nm). Chip terbaru ini tidak hanya menawarkan performa lebih tinggi, tetapi juga memerlukan metode pengemasan (packaging) yang jauh lebih kompleks dan berbiaya tinggi.

Meski komponen pemrosesan dan memori mengalami lonjakan harga, Apple dilaporkan berhasil melakukan penekanan biaya pada sektor lain. Estimasi menunjukkan bahwa harga komponen layar justru diprediksi lebih efisien dibandingkan model sebelumnya. Di sisi lain, biaya untuk modul kamera diprediksi hanya mengalami kenaikan tipis seiring dengan implementasi teknologi sensor terbaru yang diusung perusahaan.

Lonjakan biaya produksi ini menjadi sorotan industri, terutama terkait bagaimana Apple akan menyikapi kebijakan harga jual di tingkat konsumen nantinya. Penggunaan teknologi chip 2nm menjadi pertaruhan besar bagi perusahaan dalam menjaga posisi kompetitif iPhone di pasar ponsel pintar premium global.