Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, dilanda kepanikan hebat menyusul terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 5,4 pada Minggu (12/7) malam. Guncangan yang terasa cukup kuat tersebut memaksa ribuan warga yang bermukim di wilayah pesisir untuk segera mengevakuasi diri ke kawasan perbukitan lantaran khawatir akan ancaman tsunami.
Nova, salah seorang warga Desa Negeri Lama, mengungkapkan bahwa guncangan terjadi secara tiba-tiba saat kondisi listrik padam total. Lokasi rumah yang berdekatan dengan garis pantai membuat kekhawatiran akan naiknya air laut menjadi alasan utama warga berhamburan meninggalkan rumah menuju area yang lebih tinggi.
Situasi serupa terjadi di Kelurahan Buol, Kecamatan Biau. Niong, warga setempat, menuturkan bahwa kepanikan semakin memuncak ketika beredar kabar mengenai surutnya air laut di sekitar wilayah pantai. Upaya warga untuk memastikan kondisi keluarga pun sempat terhambat akibat gangguan jaringan telekomunikasi dan kemacetan arus lalu lintas kendaraan yang menuju dataran tinggi.
Pemerintah daerah melalui Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol, Moh. Kachfi Mardjuni, mengonfirmasi bahwa gempa tersebut menimbulkan dampak fisik yang cukup luas. Sejumlah infrastruktur publik, termasuk ruang perawatan RSUD Buol, Kantor Inspektorat, dan Kantor Mal Pelayanan Publik, mengalami kerusakan struktural. Selain itu, beberapa unit rumah warga serta fasilitas usaha juga terdampak guncangan.
Di balik kerusakan material tersebut, tragedi kemanusiaan juga menyertai peristiwa ini. Seorang pasien di RSUD Buol dilaporkan meninggal dunia yang diduga kuat akibat serangan jantung akibat terkejut oleh getaran gempa yang masif. Meski situasi di lapangan kini telah berangsur kondusif setelah BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami, warga tetap diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.