PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports sukses mencatatkan kinerja keuangan positif pada paruh pertama tahun ini. Sepanjang Semester I/2026, pengelola bandara BUMN tersebut berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,23 triliun, tumbuh tiga persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Pertumbuhan kinerja keuangan ini ditopang kuat oleh moncernya bisnis non-aeronautika. Strategi mempercantik tampilan fisik (beautification) bandara-bandara utama serta penataan ulang tata letak penyewa (tenant mixing) di area komersial terbukti efektif meningkatkan pengalaman berbelanja para pengguna jasa transportasi udara.
Sebagai bagian dari transformasi bisnis di bawah naungan Danantara, InJourney Airports melakukan revitalisasi besar-besaran di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Di Terminal 3 Soekarno-Hatta, penataan area komersial dilakukan guna menyajikan pengalaman belanja terbaik. Sementara itu, Terminal 1C kini mengusung konsep pusat perbelanjaan terbuka (shopping arcade) yang dapat diakses oleh masyarakat umum sebelum melewati pos pemeriksaan keamanan.
Di Bali, Bandara I Gusti Ngurah Rai menerapkan konsep alur tunggal (single flow) yang diisi oleh berbagai merek global ternama, mulai dari gerai bebas bea hingga restoran mewah. Akses menuju bandara pun ditingkatkan guna meminimalkan hambatan. Sementara itu, Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar telah mengoperasikan terminal baru sejak akhir tahun lalu, yang mendongkrak kapasitas pelayanan penumpang secara signifikan hingga 15,5 juta orang per tahun.
Tidak hanya mengandalkan sektor non-aeronautika, InJourney Airports juga aktif berkolaborasi dengan regulator untuk memperluas rute penerbangan internasional. Melalui partisipasi dalam forum regional seperti ASEAN-China Working Group dan Routes Asia, perseroan berupaya menarik minat maskapai asing, khususnya dari pasar potensial di Asia dan China, demi mendukung kebangkitan industri pariwisata nasional.
Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad Rizal Pahlevi, mengungkapkan bahwa kontribusi pendapatan dari lini non-aeronautika kini telah mencapai 38 persen, naik signifikan dari posisi 30 persen sebelum integrasi Angkasa Pura I dan II dilakukan. Pihaknya berkomitmen untuk terus menyeimbangkan portofolio bisnis guna menciptakan struktur keuangan yang kokoh dan berkelanjutan demi mendukung perekonomian nasional.