Lahan pertanian di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, kini tengah dipersiapkan untuk menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan di Kota Balikpapan. Langkah strategis ini didukung penuh melalui percepatan pembangunan infrastruktur irigasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, yang diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas serta frekuensi masa tanam para petani setempat.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat meninjau langsung jalannya proyek pada Selasa (28/7/2026), menegaskan bahwa jaminan ketersediaan air yang stabil merupakan kunci utama dalam memajukan sektor pertanian lokal. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,8 miliar dari APBD kota guna membangun saluran irigasi beton sepanjang 750 meter yang tersebar di empat titik strategis.

Proyek infrastruktur yang ditargetkan selesai sepenuhnya pada Desember 2026 ini menunjukkan deviasi kemajuan yang positif. Hingga saat ini, realisasi fisik pembangunan dilaporkan telah mencapai 26 persen, melampaui target perencanaan awal yang dipatok sebesar 6 persen. Selain fokus pada pengairan, pemerintah juga membangun jalan usaha tani guna mempermudah akses distribusi pupuk, benih, hingga mobilisasi hasil panen.

Kehadiran sistem irigasi permanen ini diyakini dapat mengubah pola tanam tradisional. Petani yang sebelumnya hanya bisa memanen padi sekali atau dua kali setahun akibat ketergantungan pada curah hujan, kini berpeluang meningkatkannya hingga tiga kali setahun. Produktivitas lahan sawah di Gunung Binjai saat ini rata-rata menghasilkan 4,5 ton gabah per hektare, dan diharapkan terus meroket seiring optimalisasi pasokan air di areal pertanian seluas 42 hektare tersebut.

Ketua Kelompok Tani Gunung Binjai, Romadhon, mengungkapkan rasa optimisnya atas bantuan infrastruktur ini. Namun, ia juga menitipkan harapan agar pemerintah segera menangani kendala teknis sekunder, seperti normalisasi saluran pembuangan yang tersumbat serta perbaikan kebocoran pada dua cekdam pembagi air, demi mencegah risiko banjir di area persawahan.

Apabila kendala teknis tersebut berhasil diselesaikan, para petani berencana menerapkan sistem rotasi tanaman berupa dua kali menanam padi dan satu kali menanam jagung dalam setahun. Pola tanam bergilir ini dinilai tidak hanya mampu mendiversifikasi komoditas pangan, melainkan juga efektif untuk memutus siklus perkembangan hama tanaman secara alami.