Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Kamis (4/6/2026) pagi. Laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi terjadi tepat pada pukul 07.47 WIB, dengan kolom abu tebal berwarna putih hingga kelabu membubung setinggi 700 meter di atas puncak.

Aktivitas erupsi yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 21 milimeter tersebut berlangsung selama lebih dari dua menit. Meski demikian, otoritas terkait memastikan bahwa fenomena ini masih berada dalam pola pemantauan ketat, dengan status gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga.

Menanggapi situasi tersebut, petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Lumajang, Nurcahyo, menekankan pentingnya kedisiplinan warga terhadap rekomendasi mitigasi. Ia mengingatkan bahwa potensi bahaya seperti awan panas guguran, lava, hingga banjir lahar tetap menjadi ancaman nyata, terutama jika terjadi curah hujan tinggi di sekitar kawasan puncak.

Pihak berwenang telah menetapkan sejumlah batasan tegas guna meminimalisasi risiko. Masyarakat dilarang keras beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, radius lima kilometer dari kawah harus dikosongkan karena adanya risiko lontaran material pijar yang berbahaya bagi keselamatan jiwa.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi dan tetap merujuk pada kanal komunikasi resmi. Kesiapsiagaan kolektif, terutama bagi penduduk yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Semeru, menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi bencana di wilayah tersebut.