Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada pagi hari. Sebuah kolom abu tebal terpantau membubung setinggi satu kilometer di atas puncak, atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut, tepatnya pada pukul 05.13 WIB.
Petugas di Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mengonfirmasi bahwa erupsi tersebut terekam jelas oleh peralatan seismograf. Berdasarkan data teknis yang dihimpun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini masih mempertahankan status aktivitas gunung pada Level III atau Siaga, dengan serangkaian rekomendasi ketat bagi penduduk di sekitar kawasan rawan bencana.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat, terutama para pelaku tambang galian golongan C. Ancaman utama yang menjadi sorotan pemerintah saat ini adalah keberadaan material endapan sisa erupsi terdahulu yang masih menyimpan panas ekstrem, kendati secara visual terlihat tenang.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa timbunan pasir tersebut berisiko membahayakan nyawa jika tidak diwaspadai. Ia menekankan bahwa curah hujan yang tinggi di wilayah hulu dapat memicu kontak termal yang berbahaya, yang berpotensi menimbulkan letupan sekunder serta meningkatkan risiko aliran lahar dingin ke arah hilir sungai.
Masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan terus memantau informasi terkini dari pos pengamatan resmi. Kepatuhan terhadap zona larangan yang telah ditetapkan oleh PVMBG sangat krusial untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di tengah eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang masih fluktuatif.