Penurunan harga bahan bakar minyak domestik yang cukup signifikan belakangan ini belum berdampak pada harga jual produk makanan di berbagai gerai kuliner. Sejak penyesuaian terakhir, harga bensin RON92 dan RON95 telah menyusut drastis dibandingkan puncak harganya beberapa bulan lalu. Namun, di lapangan, harga seporsi hidangan lokal seperti bun cha atau nasi goreng tetap bertahan di level yang sama dengan saat biaya operasional sedang tinggi-tingginya.

Hasil survei di beberapa kawasan kuliner di Hanoi menunjukkan bahwa para pemilik usaha memiliki alasan serupa terkait kekakuan harga ini. Mereka berpendapat bahwa bensin hanyalah salah satu komponen biaya yang porsinya kecil dibandingkan beban pengeluaran lainnya. Sebaliknya, biaya sewa tempat, upah tenaga kerja, serta harga bahan pokok seperti daging dan sayuran segar belum menunjukkan tren penurunan, bahkan beberapa masih cenderung tinggi.

Pakar industri makanan dan minuman (F&B), Nguyen Thai Binh, menjelaskan bahwa masyarakat sering kali melebih-lebihkan pengaruh harga bensin terhadap harga makanan siap saji. Menurutnya, biaya bahan bakar secara langsung dan tidak langsung dalam operasional sebuah kedai hanya menyumbang sekitar 3 hingga 7 persen dari total struktur biaya. Dengan proporsi sekecil itu, penurunan harga bensin tidak serta merta memberikan ruang yang cukup bagi pemilik usaha untuk memangkas harga jual produk mereka secara signifikan.

Terdapat tiga kelompok pengeluaran utama yang menjadi beban terberat bagi pelaku bisnis kuliner saat ini, yaitu biaya bahan baku (35-42%), biaya tenaga kerja (15-25%), dan biaya sewa tempat usaha (10-18%). Selain ketiga komponen tersebut, beban pajak, biaya pengemasan, serta komisi platform pengiriman makanan turut menekan profitabilitas bisnis, sehingga pemilik usaha lebih memilih untuk menahan harga guna memastikan kelangsungan operasional.

Lebih lanjut, Binh menegaskan bahwa penurunan harga jual di tingkat konsumen baru akan terjadi apabila stabilitas harga bahan bakar bertahan dalam jangka waktu lama, diikuti dengan penurunan biaya logistik di seluruh rantai pasok. Hingga saat itu tercapai, pemilik usaha diprediksi akan lebih memilih strategi promosi, seperti paket kombo atau penambahan nilai layanan, dibandingkan menurunkan harga jual produk secara langsung. Efisiensi model bisnis, menurutnya, tetap menjadi kunci utama dalam menjaga daya saing di tengah ketatnya persaingan pasar.