Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama Arsari Group secara resmi mengumumkan kehadiran PT Infra Fiber Teknologi (IFT). Perusahaan ini diproyeksikan menjadi pilar infrastruktur digital independen yang menerapkan model akses terbuka (open access) guna mendorong pemerataan konektivitas internet di Tanah Air.
Peresmian IFT pada Kamis (2/7/2026) merupakan babak baru dari kolaborasi strategis kedua belah pihak. Sebagai entitas independen, IFT akan mengelola jaringan serat optik sepanjang lebih dari 86.000 kilometer, yang mencakup infrastruktur backbone nasional hingga kabel bawah laut, serta jaringan akses lokal. Infrastruktur masif ini kini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari operator telekomunikasi hingga pelaku bisnis hyperscaler.
Langkah ini merupakan implementasi dari kesepakatan investasi yang telah dirintis sejak Desember 2025. Melalui restrukturisasi ini, Indosat dan PT Aplikanusa Lintasarta mengalihkan kepemilikan asetnya ke PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT), platform investasi milik Arsari Group. Indosat sendiri mengantongi dana segar sekitar Rp11,7 triliun dari transaksi tersebut, yang akan dialokasikan kembali untuk memperkuat ekspansi bisnis inti, pengembangan teknologi 5G, serta infrastruktur pendukung kecerdasan buatan (AI).
Deputy CEO & COO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan langkah vital dalam menciptakan keadilan akses bagi masyarakat. Menurutnya, daya saing nasional sangat bergantung pada kemampuan setiap lapisan masyarakat untuk terhubung dalam ekonomi digital yang inklusif.
Senada dengan hal tersebut, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa kehadiran IFT adalah perwujudan nyata komitmen perusahaan untuk memberdayakan masyarakat melalui teknologi. Dengan sistem open access, diharapkan layanan seperti cloud dan AI dapat menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan koneksi.
Saat ini, sebaran jaringan IFT mencakup 45 persen wilayah Pulau Jawa dan 55 persen wilayah lainnya di Indonesia. Presiden Direktur PT Infra Fiber Teknologi, Hendry Syam, berkomitmen bahwa fokus utama perusahaan ke depan adalah menyasar daerah-daerah yang belum terjangkau secara optimal, demi memperkuat ekosistem digital nasional secara merata.