Trauma masa kecil, yang sering kali bersumber dari kekerasan di lingkungan domestik maupun sekolah, kini menjadi perhatian serius bagi kesehatan mental generasi muda di Indonesia. Data dari laporan GEAS-Indonesia mencatat angka yang cukup mencemaskan, di mana sekitar 78 persen remaja di tanah air mengaku pernah mengalami pengalaman buruk selama masa pertumbuhan mereka.

Menyadari kurangnya literasi lingkungan sekitar dalam mendeteksi dampak trauma tersebut, tim peneliti dari Monash University, Indonesia, tengah merancang platform digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diberi nama 'Kita Bersama'. Proyek ini dipimpin oleh Grace Wangge dengan melibatkan kolaborasi lintas disiplin untuk memastikan teknologi yang dikembangkan relevan dengan konteks budaya dan sistem kesehatan di Indonesia.

Kecanggihan AI dalam platform ini difungsikan untuk menganalisis pola bahasa, aktivitas fisik, hingga pola tidur pengguna guna memberikan deteksi dini atas perubahan emosional. Namun, para peneliti menegaskan bahwa platform ini hadir bukan sebagai pengganti terapis. Sebaliknya, sistem ini dirancang sebagai jembatan yang akan mengarahkan pengguna pada penanganan profesional apabila teridentifikasi adanya gejala klinis.

Tantangan besar masih membayangi pengembangan ini, mulai dari isu kesenjangan akses digital di daerah terpencil hingga perlindungan data pribadi yang sangat sensitif. Untuk memitigasi hal tersebut, tim peneliti menerapkan proses co-design yang melibatkan para penyintas, orang tua, guru, hingga pemangku kepentingan seperti Kementerian Kesehatan, dengan target uji coba sukarela di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir 2026.

Di sisi lain, urgensi pemulihan trauma ini diperkuat oleh studi neurosains dari University of Essex. Riset tersebut menunjukkan bahwa trauma masa kecil dapat memicu perubahan struktural pada sistem otak, khususnya yang mengatur empati dan pemrosesan emosi. Dengan memahami dampak biologis ini, diharapkan platform 'Kita Bersama' dapat menjadi langkah preventif yang krusial untuk mencegah penurunan kualitas hidup remaja di masa depan.