Sekelompok peneliti dari Universitas Teknik Munich (TUM) dan Universitas Mainz telah melakukan terobosan signifikan dalam pemantauan aktivitas vulkanik di Pulau Vulcano, Italia. Mereka memanfaatkan teknologi pesawat nirawak (UAV) yang canggih untuk menganalisis emisi gas dari kawah gunung berapi tanpa harus menempatkan personel di zona berbahaya.
UAV yang digunakan, termasuk perangkat bernama 'Tina', dirancang dengan sensor presisi untuk mendeteksi konsentrasi bahan kimia, partikel udara, serta unsur halogen seperti klorin dan bromin. Dengan kemampuan terbang fleksibel, drone ini mampu memetakan konsentrasi gas dalam waktu singkat sekaligus menghindari paparan aliran udara panas yang korosif terhadap perangkat sensor sensitif.
Para ahli menjelaskan bahwa perubahan komposisi gas yang dilepaskan gunung berapi merupakan indikator krusial sebelum terjadinya erupsi. Oleh karena itu, kemampuan drone dalam mengumpulkan data akurat di area yang sulit dijangkau manusia menjadi instrumen penting untuk pengembangan sistem peringatan dini yang lebih responsif dan aman.
Setelah keberhasilan uji coba di Kepulauan Aeolian, tim peneliti berencana menguji efektivitas teknologi ini pada kondisi ekstrem di Gunung Etna. Langkah ini diharapkan dapat memvalidasi kemampuan drone untuk memantau aktivitas vulkanik secara real-time dan memberikan data berharga bagi langkah mitigasi bencana di masa depan.