Gelaran Piala Dunia 2026 kini berada di bawah bayang-bayang keraguan menyusul keputusan kontroversial FIFA yang menangguhkan larangan bertanding bagi penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun. Penangguhan hukuman ini disinyalir merupakan hasil dari komunikasi langsung antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, pasca kartu merah yang diterima Balogun saat laga babak 32 besar kontra Bosnia-Herzegovina.
Meskipun Infantino bersikeras bahwa interaksi tersebut hanyalah komunikasi rutin antara pejabat negara dan pimpinan federasi sepak bola, publik sepak bola dunia menunjukkan skeptisisme yang mendalam. Infantino menekankan bahwa badan peradilan FIFA tetap beroperasi secara independen sesuai dengan Kode Disiplin yang berlaku, namun pernyataan tersebut gagal membendung gelombang kritik dari berbagai pihak.
Pelatih tim nasional Norwegia, Stale Solbakken, menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik kebijakan ini. Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar preseden buruk, melainkan ancaman nyata bagi kredibilitas olahraga. Solbakken berpendapat bahwa timnas Amerika Serikat justru akan dirugikan karena setiap pencapaian mereka di sisa turnamen akan selalu dipandang sebagai hasil dari "bantuan politik" dan bukan murni kualitas di atas lapangan hijau.
Situasi ini mencatatkan sejarah baru sebagai kasus pertama sejak 1962 di mana sanksi kartu merah dalam Piala Dunia dianulir. Fenomena ini memicu kekhawatiran mengenai netralitas FIFA, terutama mengingat hubungan personal yang cukup erat antara Trump dan Infantino. Federasi Sepak Bola Belgia bahkan sempat melayangkan gugatan hukum yang kemudian ditolak oleh pihak banding FIFA, mempertebal kesan adanya perlindungan khusus terhadap tuan rumah.
Dalam statuta resminya, FIFA memiliki aturan tegas yang melarang intervensi pemerintah terhadap independensi asosiasi sepak bola. Pelanggaran terhadap prinsip ini biasanya berujung pada sanksi berat bagi negara anggota. Namun, dengan terjadinya kasus Balogun, FIFA kini menghadapi ujian berat untuk membuktikan bahwa integritas kompetisi mereka tidak dapat dipengaruhi oleh tekanan politik dari kekuatan negara mana pun.