Situasi politik Indonesia pasca-kemerdekaan pada Maret 1946 di Madiun memanas. Kongres Persatuan Perjuangan (PP) yang kedua, yang dipimpin oleh Wali al-Fatah, mencerminkan keretakan mendalam dalam kubu oposisi nasional. Meski jumlah organisasi pendukung menyusut drastis dari seratus menjadi empat puluh entitas, semangat perlawanan Tan Malaka dan para pengikutnya tetap tak tergoyahkan.

Di sisi lain, tekanan terhadap kelompok oposisi semakin intensif. Organisasi seperti Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) secara terbuka memisahkan diri dari PP. Ketegangan memuncak ketika BKPRI melakukan aksi unjuk kekuatan melalui parade bersenjata di Madiun serta penyebaran selebaran anti-PP di berbagai titik.

Gelombang perselisihan ini memicu respons keras dari pemerintah saat itu. Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin dikabarkan menginstruksikan pengejaran terhadap Tan Malaka dan rekan-rekannya. Bahkan, Presiden Sukarno disebut memberikan dukungan logistik, termasuk penyediaan kendaraan dan dana, untuk memuluskan upaya penangkapan tokoh karismatik tersebut.

Pengejaran ini menandai titik balik penting dalam sejarah perjuangan Tan Malaka. Tekanan politik yang sistematis memaksanya untuk terus berpindah tempat hingga akhirnya memilih jalur pengasingan di lereng Gunung Lawu, sebuah babak yang menjadi saksi bisu betapa tajamnya konflik internal dalam memperebutkan haluan perjuangan Republik di masa-masa awal kemerdekaan.