Kementerian Agama (Kemenag) RI mengambil langkah strategis dalam mempercepat transformasi digital di lingkungan pondok pesantren. Melalui program kolaboratif, Kemenag menggelar pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pemanfaatan teknologi digital yang menyasar ribuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pesantren dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kegiatan bertajuk Training of Trainers (ToT) Kampus UMKM Shopee ini berlangsung secara daring pada 22-23 Juli 2026. Pelatihan ini terbagi ke dalam dua fokus utama: sesi ToT khusus untuk ratusan pengelola unit bisnis pesantren, serta kelas pelatihan UMKM yang diikuti oleh sedikitnya 1.000 pelaku usaha di ekosistem pesantren. Seluruh materi disampaikan oleh para instruktur profesional yang telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Akademi Pengajar Kampus UMKM Shopee.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, Basnang Said, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi pesantren tidak boleh berhenti pada penyediaan modal dan infrastruktur fisik semata. Menurutnya, aspek literasi bisnis, kecakapan manajerial, serta adopsi teknologi digital merupakan pilar utama agar unit usaha pesantren dapat naik kelas dan memperluas pangsa pasar mereka hingga ke tingkat nasional.
Basnang menambahkan bahwa pembangunan ekosistem bisnis di lingkungan pesantren mengusung misi sosial yang berkelanjutan. Unit-unit usaha ini diharapkan tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga menjadi motor pemberdayaan ekonomi umat, penciptaan lapangan kerja baru, serta penyokong dana pendidikan bagi santri.
Sementara itu, Director of Public Policy Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo, menyatakan komitmennya untuk terus mendukung digitalisasi UMKM lokal, khususnya di sektor pesantren. Ia berharap para alumni pelatihan ini dapat membagikan ilmu yang diperoleh ke komunitas yang lebih luas, sehingga tercipta efek domino (multiplier effect) yang positif bagi kemandirian ekonomi pesantren di tanah air.