Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini menerapkan strategi agresif dalam pengendalian tuberkulosis (TB) dengan menginstruksikan pelacakan kontak erat hingga 100 persen terhadap keluarga dan lingkungan terdekat pasien. Langkah ini diambil sebagai upaya krusial untuk menghentikan laju penularan sekaligus mengejar target ambisius eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030 mendatang.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menekankan bahwa pola penanganan selama ini perlu beralih dari sekadar mengobati penderita menjadi aktif mencari sumber infeksi. Strategi tersebut diibaratkan seperti memancing di kolam, di mana seluruh orang yang berinteraksi dengan pasien harus dipastikan status kesehatannya guna memutus rantai penyebaran virus sebelum meluas.

Untuk mendukung program ini, Kemenkes akan mengoptimalkan pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), rontgen portabel, serta teknologi tes cepat. Pemerintah pusat juga telah memastikan ketersediaan anggaran untuk tahun 2026 dan mendorong sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi profesi, hingga kader di tingkat desa agar deteksi dini dapat berjalan maksimal.

Data tahun 2024 menunjukkan tantangan yang masih cukup besar, di mana Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia, menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus global. Selain penguatan deteksi, Kemenkes juga berfokus pada kemandirian medis, termasuk pengembangan vaksin nasional dan penambahan kapasitas laboratorium mikrobiologi di berbagai provinsi.

Di sisi lain, para penyintas TB menekankan pentingnya penghapusan stigma negatif di masyarakat terhadap penderita. Dukungan sosial dan kepatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan hingga tuntas dinilai sebagai kunci utama agar penderita TB, termasuk mereka yang mengalami resistensi obat, bisa kembali sehat dan produktif.