Menjadi pengusaha kuliner di usia muda membutuhkan mentalitas yang tangguh, hal itulah yang dibuktikan oleh Maulana Luthfi Karim (31). Berawal dari keinginan mandiri, pemuda asal Desa Gembong, Kabupaten Pati ini berhasil mendirikan kedai kuliner bernama “Ayam-Ayam” yang kini menjadi tumpuan ekonomi sekaligus sarana mewujudkan visi jangka panjang bagi keluarganya.

Keberhasilan Luthfi dalam merintis usahanya tidak lahir secara instan. Modal sebesar Rp10 juta yang ia gunakan untuk membangun kedai merupakan hasil dari kedisiplinan menabung uang saku selama masa perkuliahan. Konsistensi tersebut kini berbuah manis, di mana kedainya mampu melayani 50 hingga 100 porsi setiap hari, serta merambah layanan katering untuk berbagai acara.

Lebih dari sekadar mencari keuntungan bisnis, Luthfi memiliki filosofi hidup yang mendalam. Ia mengalokasikan sebagian laba usahanya untuk membiayai studinya di UIN Sunan Kudus. Baginya, pendidikan bukanlah sekadar tentang status sosial, melainkan upaya untuk memberikan teladan serta standar pendidikan yang lebih baik bagi generasi penerusnya kelak.

Dedikasi Luthfi turut mendapat apresiasi positif dari para pelanggan setianya. Zaenal Arifin, salah satu penikmat kuliner di kedai tersebut, memuji kualitas rasa dan pelayanan yang diberikan. Menurutnya, perpaduan antara cita rasa lezat dengan harga yang terjangkau membuat kedai milik Luthfi menjadi destinasi favorit masyarakat sekitar.

Perjalanan hidup Luthfi menjadi pengingat bahwa modal finansial hanyalah pemantik, sementara konsistensi dan visi masa depan adalah pendorong utama keberhasilan. Melalui kerja keras di dapur “Ayam-Ayam”, Luthfi tidak hanya mengais rezeki, tetapi juga tengah membangun warisan intelektual bagi keluarganya di masa depan.