Sebuah rilis yang mengatasnamakan Suara Mahasiswa (Suma) UI melayangkan kritik terbuka terhadap unggahan BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang berkaitan dengan peringatan Pride Month. Kelompok tersebut menyoroti bagaimana narasi Pancasila digunakan dalam konten tersebut, dengan menekankan bahwa penggunaan ideologi negara sebagai pembenaran atas agenda tertentu merupakan langkah yang patut dikritisi.
Dalam pernyataan yang bertajuk ‘Jangan Jadikan Pancasila Tameng Agenda Ideologis’, pihak Suma UI menilai bahwa upaya mengaitkan sila 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' untuk mendukung kampanye Pride Month merupakan penyederhanaan yang menyesatkan. Menurut mereka, penghormatan terhadap martabat manusia tidak serta-merta mewajibkan persetujuan terhadap perilaku atau pandangan tertentu yang masih menjadi perdebatan di masyarakat.
Suma UI juga menekankan pentingnya memaknai Pancasila secara holistik, termasuk sila pertama mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dipandang sebagai landasan moralitas bangsa. Pihak tersebut khawatir narasi yang dibangun oleh BEM Psikologi UI justru memicu dikotomi di tengah civitas academica, alih-alih membangun ruang diskusi ilmiah yang sehat, berbasis etika, hukum, dan keberagaman perspektif.
Kendati demikian, dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk kekerasan, persekusi, dan intimidasi terhadap kelompok mana pun. Namun, mereka membedakan dengan jelas antara kewajiban menghormati hak asasi manusia dan keharusan menerima pandangan ideologis yang bertentangan dengan norma agama serta budaya lokal.
Sebagai penutup, Suma UI menyerukan pentingnya pendidikan karakter yang kuat bagi generasi muda untuk menjaga identitas kebangsaan. Mereka berharap kampus tetap menjadi ruang akademik yang mampu menyeimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan koridor Pancasila, UUD 1945, serta kearifan budaya nasional demi menjaga persatuan bangsa.