Banyak pelaku usaha, khususnya sektor UMKM, sering kali terjebak dalam pola pengelolaan keuangan yang mencampuradukkan aset pribadi dengan modal bisnis. Praktisi Tax and Finance, Cindhita Mahardika, menegaskan bahwa langkah mendasar untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan adalah dengan memisahkan rekening perbankan sejak awal bisnis beroperasi.
Kebiasaan mengambil uang kas usaha untuk keperluan pribadi secara acak dinilai sangat berbahaya. Praktik ini menyebabkan pemilik sulit mengidentifikasi apakah bisnis yang dijalankan benar-benar mencetak profit atau justru tengah mengalami kerugian tersembunyi. Tanpa pemisahan yang jelas, operasional bisnis menjadi tidak akuntabel dan sulit dievaluasi secara objektif.
Sebagai solusi, Cindhita menyarankan setiap pemilik usaha untuk menetapkan sistem penggajian resmi bagi diri sendiri. Dengan cara ini, rekening bisnis hanya digunakan untuk transaksi operasional, sementara kebutuhan pribadi dipenuhi dari gaji yang telah dialokasikan setiap bulannya. Sistem ini memungkinkan pemilik memantau kinerja bisnis secara real-time.
Lebih lanjut, penerapan sistem gaji ini juga berfungsi sebagai indikator efektivitas bisnis. Jika arus kas usaha belum mampu menutupi gaji pemilik, maka hal tersebut menjadi sinyal bagi pengusaha untuk segera mengevaluasi struktur harga jual, biaya operasional, maupun strategi pemasaran agar bisnis dapat berjalan mandiri dan berkelanjutan.
Selain aspek teknis, memberikan gaji kepada diri sendiri juga dipandang sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dalam membangun usaha. Dengan memisahkan keuangan, pelaku usaha tidak hanya menjaga keberlangsungan bisnis secara profesional, tetapi juga mampu menikmati hasil kerja mereka secara sehat tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan perusahaan.