Kawasan lereng Gunung Lawu di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, menyimpan kekayaan agrikultur berupa tanaman kopi yang telah dibudidayakan sejak era kolonial Belanda. Hingga kini, para petani setempat masih mempertahankan varietas asli Robusta, Arabika, dan Excelsa yang karakteristik bijinya diklaim tidak mengalami perubahan genetik meski telah melewati usia lebih dari satu abad.
Santoso, salah satu petani di Desa Alastuwo, mengungkapkan bahwa keotentikan kopi di wilayah Gunung Tambal terjaga berkat metode perbanyakan stek batang dari pohon-pohon tua. Menurutnya, ukuran biji kopi yang cenderung lebih kecil dibandingkan daerah lain merupakan penanda utama bahwa tanaman tersebut merupakan bibit murni peninggalan masa lampau yang tidak melalui proses persilangan.
Di antara varietas yang ada, kopi Excelsa memiliki daya tarik unik dengan aroma khas yang menyerupai buah nangka, sehingga masyarakat lokal kerap menjulukinya sebagai "Kopi Nangka". Meskipun proses pemanenannya menantang karena struktur pohon yang tinggi, kopi jenis ini tetap memiliki pangsa pasar yang stabil di luar daerah, terutama di Solo dan Karanganyar, dengan harga jual mencapai Rp110.000 per kilogram untuk biji siap sangrai.
Pemerintah daerah melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terus memberikan dukungan strategis untuk mengoptimalkan potensi kopi di Poncol. Saat ini, terdapat sekitar 720 petani yang mengelola puluhan hektare lahan kopi. Dengan luas lahan kering yang masih tersedia hingga 2.200 hektare, sektor ini diproyeksikan akan terus berkembang melalui sinergi pendampingan akademisi dan bantuan fasilitas dari Dinas Pertanian.
Seiring dengan meningkatnya minat pasar terhadap kopi lokal berkualitas, pemasaran kopi asal Poncol kini telah menembus pasar luar daerah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat identitas kopi Magetan sebagai komoditas unggulan yang bernilai ekonomi tinggi di kancah nasional.