Kawasan Gunung Kawi kini tengah menjadi sorotan publik menyusul beredarnya narasi di media sosial yang mengaitkan situs ziarah tersebut dengan praktik pesugihan. Menanggapi polemik yang berkembang, pihak pengelola wisata religi Gunung Kawi akhirnya memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan persepsi masyarakat.
Melalui pernyataan yang diunggah di akun Instagram @gunungkawistory, pengelola menegaskan bahwa Gunung Kawi telah lama dikenal sebagai tempat sakral untuk berziarah, memanjatkan doa, dan mengungkapkan rasa syukur. Pihak pengelola menyayangkan adanya stigma negatif yang terbentuk akibat konten sensasional yang beredar tanpa dasar historis yang kuat.
Lebih lanjut, pengelola menekankan bahwa jauh sebelum era digital, Gunung Kawi telah menjadi tujuan bagi ribuan peziarah yang datang dengan harapan baik. Kehadiran para peziarah tersebut secara tidak langsung menjadi penggerak ekonomi bagi warga lokal, mulai dari sektor perdagangan bunga, penyediaan jasa penginapan, hingga transportasi.
Narasi yang dibangun oleh pihak pengelola menyebutkan bahwa Gunung Kawi merupakan rumah bagi nilai-nilai luhur yang dijaga secara turun-temurun. Mereka berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar dan lebih menghargai sisi sejarah serta budaya yang sesungguhnya dari kawasan wisata religi tersebut daripada sekadar mempercayai konten yang mengejar sensasi.