Sektor kesehatan kini menjadi sasaran empuk bagi kelompok peretas profesional yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melancarkan serangan siber skala besar. Dalam seminar yang digelar oleh Viettel Cyber Security, para pakar menekankan bahwa insiden kebocoran data di fasilitas medis tidak sekadar memicu kerugian finansial, melainkan berisiko fatal bagi keselamatan pasien dan integritas layanan kesehatan secara keseluruhan.

Menghadapi ancaman ini, otoritas terkait mulai memberlakukan regulasi yang lebih ketat, termasuk klasifikasi rekam medis dan informasi genetik sebagai data pribadi yang bersifat sensitif. Fasilitas medis kini diwajibkan mematuhi aturan ketat seperti pemberitahuan persetujuan pasien dan kewajiban pelaporan penilaian dampak pemrosesan data. Pelanggaran terhadap aturan ini membawa sanksi berat, mulai dari denda administratif hingga denda proporsional berdasarkan pendapatan tahunan.

Namun, kepatuhan hukum saja belum cukup. Banyak rumah sakit masih terkendala oleh sistem operasional yang usang serta minimnya tenaga ahli di bidang keamanan informasi. Para ahli menyarankan pendekatan bertahap, mulai dari pemisahan jaringan (segmentasi) untuk mengisolasi sistem lama, hingga penerapan pencadangan data secara berkala guna memastikan keberlangsungan layanan medis saat terjadi gangguan sistem.

Selain pembenahan infrastruktur, peningkatan kesadaran sumber daya manusia tetap menjadi lini pertahanan terdepan. Fasilitas kesehatan disarankan untuk tidak bekerja sendiri dalam menjaga keamanan data. Membangun kemitraan dengan penyedia layanan pemantauan keamanan (SOC) yang beroperasi 24/7 dapat menjadi solusi efektif dan efisien untuk mendeteksi ancaman secara dini sebelum menyebabkan kerusakan sistem yang lebih luas.