Ribuan masyarakat Desa Serang yang terletak di lereng Gunung Slamet, Purbalingga, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi tahunan yang penuh kemeriahan dalam rangkaian Festival Gunung Slamet (FGS) kesembilan. Acara ini menjadi simbol kearifan lokal masyarakat setempat sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya hasil panen yang mereka terima sepanjang tahun.
Kemeriahan memuncak saat prosesi arakan 12 gunungan hasil bumi yang dihias sedemikian rupa mengelilingi desa. Warga yang mengenakan busana adat Jawa tampak antusias menanti aba-aba untuk berebut berbagai jenis sayuran segar yang terdapat pada gunungan tersebut. Dalam sekejap, seluruh hasil bumi yang diarak habis tak tersisa, mencerminkan semangat kebersamaan dan kekompakan warga.
Tidak berhenti pada rebutan gunungan, suasana di area parkir Wisata Lembah Asri Serang berubah menjadi arena keceriaan lewat tradisi perang tomat. Panitia telah menyiapkan sembilan kuintal tomat yang sudah tidak layak jual untuk digunakan sebagai amunisi dalam peperangan massal ini. Penggunaan tomat busuk ini menjadi cara kreatif warga agar tetap bisa menjalankan tradisi tanpa harus menyia-nyiakan hasil panen yang berkualitas baik.
Husein, salah seorang peserta, mengungkapkan bahwa meski harus berlumuran tomat dan menahan rasa sakit akibat lemparan, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Menurutnya, acara ini merupakan momen berharga untuk menjalin silaturahmi serta menjaga kekompakan antarpetani di lereng gunung tersebut.
Kepala Desa Serang, Sugito, menyatakan bahwa Festival Gunung Slamet bukan sekadar perayaan budaya, melainkan strategi untuk mendongkrak sektor agrowisata di daerahnya. Pemerintah desa berharap tradisi turun-temurun ini dapat terus dilestarikan agar dapat memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.