Meta, perusahaan induk di balik raksasa media sosial Facebook dan WhatsApp, mulai menatap masa depan perdagangan digital melalui konsep 'ekonomi agensik'. Alex Schultz, Kepala Petugas Data Meta, menegaskan bahwa pemanfaatan agen AI dalam bertransaksi bukan sekadar inovasi produk, melainkan sebuah keniscayaan yang akan menjadi pilar bisnis perusahaan di masa depan.
Dalam pandangan Schultz, ekonomi agensik memungkinkan pelaku bisnis menggunakan agen AI untuk mengelola tugas kompleks, mulai dari pengaturan logistik hingga negosiasi rantai pasokan, secara otomatis melalui aplikasi percakapan seperti WhatsApp. Contoh nyata yang dipaparkan melibatkan agen yang mampu mengoordinasikan jadwal dan kebutuhan pengguna dengan efisiensi tinggi, yang jika diimplementasikan dalam skala besar, berpotensi merevolusi perdagangan lintas batas.
Untuk mendukung visi tersebut, Meta menempatkan stablecoin sebagai lapisan pembayaran utama. Schultz secara terbuka menyatakan bahwa era dompet fisik akan segera berakhir, digantikan oleh pembayaran digital yang terintegrasi. Hal ini terinspirasi dari keberhasilan model perdagangan percakapan di Asia, seperti WeChat dan Line, yang telah lebih dulu mengadopsi pembayaran peer-to-peer dan transaksi dalam aplikasi secara luas.
Berbeda dengan upaya ambisius proyek Libra di masa lalu yang sempat terbentur regulasi ketat, strategi Meta kali ini lebih menitikberatkan pada kemitraan strategis. Perusahaan memposisikan diri sebagai penyedia antarmuka perdagangan, sementara penyelesaian pembayaran diserahkan kepada infrastruktur stablecoin pihak ketiga yang telah diatur secara resmi. Pendekatan ini dinilai lebih akomodatif terhadap lanskap regulasi yang saat ini mulai melunak terhadap industri aset digital.
Selain pembayaran, Meta juga menaruh perhatian besar pada tantangan verifikasi identitas dalam ekonomi agensik. Schultz menekankan pentingnya sistem yang mampu menjamin bahwa sebuah agen benar-benar mewakili entitas bisnis yang sah. Meskipun Meta terbuka untuk mengadopsi solusi identitas terdesentralisasi, perusahaan masih menunggu adanya sistem yang memiliki skala, keandalan, dan penetrasi pasar yang cukup untuk diadopsi secara massal.