Panitia penyelenggara Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 memberikan klarifikasi mengenai kebijakan harga tiket masuk yang sempat menuai perhatian publik. Pihak penyelenggara menekankan bahwa biaya yang dikeluarkan pengunjung bukan sekadar akses masuk, melainkan kontribusi langsung dalam menggerakkan ekonomi kreatif serta pelestarian warisan budaya di Sumatera Utara.
Farah, perwakilan Humas PRSU 2026, menjelaskan bahwa ajang yang berlokasi di kawasan Tapian Daya, Medan ini, telah bertransformasi dengan wajah baru. Fokus utamanya kini bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sebagai wadah promosi bagi seniman dan pelaku UMKM lokal yang telah melalui proses kurasi ketat untuk memastikan standar kualitas yang lebih baik.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 75 persen konten yang disajikan sepanjang acara merupakan hasil karya lokal. Dengan proporsi tersebut, panitia memandang dukungan dari masyarakat melalui tiket masuk sangat krusial demi menjaga keberlangsungan ekosistem kreatif daerah agar tetap produktif dan berkelanjutan.
Selain aspek ekonomi dan budaya, panitia menegaskan bahwa penyesuaian harga tiket juga telah diperhitungkan matang untuk menjamin standar keamanan, kenyamanan fasilitas, serta kualitas program yang disajikan. Langkah ini diambil guna memastikan pengunjung mendapatkan pengalaman yang berharga selama menikmati rangkaian kegiatan PRSU ke-50.
Meski demikian, pihak panitia menyatakan tetap terbuka terhadap kritik serta saran dari masyarakat luas. Segala bentuk aspirasi yang masuk akan dijadikan bahan evaluasi guna mewujudkan PRSU sebagai ajang kebanggaan bersama yang inklusif, bagi keluarga maupun kalangan profesional di Sumatera Utara.