Sentimen pasar saham di kawasan Asia terpantau bergerak variatif pada awal pekan ini setelah sempat mengalami tekanan hebat pada akhir Juni akibat kekhawatiran berlebih terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Tren positif sempat muncul setelah data terbaru menunjukkan penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat berada di bawah ekspektasi, yang memberikan sinyal bahwa Federal Reserve mungkin tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunga demi menekan inflasi.
Kendati demikian, optimisme pasar masih dibayangi oleh volatilitas tinggi pada saham-saham sektor teknologi. Indeks Kospi di Seoul, Korea Selatan, menjadi saksi ketidakpastian tersebut dengan pergerakan yang fluktuatif; sempat mencatatkan kenaikan hampir 2% sebelum akhirnya berbalik melemah 0,5% dan ditutup di level 8.051,33 poin.
Di pasar utama lainnya, indeks Nikkei 225 di Tokyo cenderung stagnan pada posisi 69.737,69 poin. Sementara itu, bursa Hong Kong melalui indeks Hang Seng berhasil menguat 1% ke level 23.578,58 poin, berbanding terbalik dengan indeks Shanghai Composite di Tiongkok yang harus terkoreksi tipis 0,1% menjadi 4.041,24 poin.
Sentimen positif bagi para pelaku pasar datang dari rilis laporan keuangan kuartal kedua Hon Hai Group atau Foxconn yang melampaui estimasi analis. Hasil positif ini menjadi sorotan utama bagi investor yang ingin memantau arah investasi perusahaan tersebut dalam pengembangan teknologi AI di masa depan.
Di sisi lain, bursa saham Vietnam mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Pada sesi penutupan, VN-Index mencatatkan penurunan sebesar 1% menjadi 1.843,50 poin, sementara HNX-Index terkoreksi lebih signifikan sebesar 3,6% menuju level 296,51 poin.