Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) secara resmi membentuk Special Interest Group (SIG) Sarkopenia sebagai langkah strategis menangani penurunan massa dan fungsi otot yang kian mengancam populasi lansia di tanah air. Inisiasi ini diumumkan dalam webinar nasional yang mengedepankan kolaborasi lintas disiplin ilmu guna mengubah paradigma penanganan kesehatan dari berbasis penyakit menjadi berbasis fungsi tubuh.
Ketua Umum PP PERDOSRI, Dr. dr. Rumaisah Hasan, Sp.K.F.R., menegaskan bahwa pelemahan kondisi fisik pada lansia tidak boleh lagi dianggap sebagai proses penuaan yang wajar. Menurutnya, sarkopenia merupakan kondisi medis objektif yang memerlukan intervensi terstruktur sejak dini. Data menunjukkan prevalensi sarkopenia di Asia-Pasifik mencapai 29%, yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko disabilitas dan mortalitas pada kelompok usia lanjut.
Dalam upaya mempercepat deteksi, PERDOSRI mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terbukti mampu mengefisiensikan proses penapisan hingga lebih dari 38%. Metode ini diharapkan dapat diterapkan secara luas di fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas, sehingga skrining awal dapat diakses oleh masyarakat secara lebih terjangkau, efisien, dan presisi.
Selain inovasi teknologi, PERDOSRI merumuskan tiga pilar utama untuk menjaga kekuatan otot, yaitu pemenuhan asupan protein harian yang adekuat, latihan beban atau resistansi terarah yang dilakukan secara rutin, serta optimalisasi kadar Vitamin D. Organisasi ini berharap langkah tersebut menjadi fondasi kuat bagi masyarakat dalam membangun "tabungan otot" sejak usia produktif demi mewujudkan populasi lanjut usia yang lebih mandiri dan aktif.