Indonesia kian serius memperlebar cakupan pasar ekspor produk unggulannya, terutama minyak sawit dan turunannya, ke kawasan Eurasia. Langkah strategis ini ditegaskan melalui perhelatan Indonesia–Belarus Business Forum and Business Matching yang berlangsung di Jakarta, Selasa lalu. Acara tersebut menjadi titik temu krusial bagi pelaku industri kedua negara untuk menjajaki peluang kolaborasi bisnis yang lebih komprehensif.
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bersama Belarusian Chamber of Commerce and Industry (BelCCI) memfasilitasi forum ini guna menjembatani kebutuhan investasi serta memperluas jaringan perdagangan bilateral. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa selain minyak sawit, produk seperti karet, kakao, hasil perikanan, dan produk elektronik memiliki potensi pasar yang sangat menjanjikan di Belarus.
Data mencatat tren positif dalam hubungan perdagangan kedua negara, dengan total nilai transaksi mencapai US$221,3 juta pada tahun 2025. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Momentum ini diperkuat dengan adanya ratifikasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA) yang telah ditandatangani oleh Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko.
Deputi Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich, menyatakan bahwa implementasi perjanjian perdagangan bebas tersebut akan menjadi fondasi utama dalam meningkatkan arus investasi dan komoditas. Ia juga mendukung pembentukan Dewan Bisnis Indonesia–Belarus sebagai kanal komunikasi intensif untuk mempercepat eksekusi proyek-proyek strategis di lapangan.
Pemerintah Indonesia optimistis bahwa akses ke pasar Eurasian Economic Union (EAEU), yang mencakup 180 juta penduduk dan PDB mencapai US$2,56 triliun, akan memberikan dorongan signifikan bagi ekspor nasional. Sinergi ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta mendukung pembangunan berkelanjutan di kedua negara.