Pemerintah Indonesia mengambil langkah konkret dalam memacu hilirisasi mineral kritis dengan menjalin kerja sama strategis bersama India. Kesepakatan ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang difokuskan pada pengembangan teknologi pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang atau rare earth.

Proyek kolaborasi ini akan melibatkan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), yang didampingi oleh Non-Ferrous Materials Technology Development Centre (NFTDC) serta perusahaan tambang terintegrasi asal India, Midwest Ltd. Kerja sama ini menjadi salah satu pilar penting dari 16 poin kesepakatan bilateral yang dibahas dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi di Istana Merdeka, Selasa (7/7/2026).

Kepala Badan Industri Mineral (BIM) sekaligus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa Indonesia secara aktif mengeksplorasi kapabilitas teknologi India dalam sektor pemurnian mineral. Menurutnya, India memiliki keunggulan dalam pemrosesan logam tanah jarang serta pengembangan industri magnet yang menjadi fokus utama dalam pertukaran teknologi antar kedua negara.

"Kami tengah menjajaki berbagai peluang teknis, terutama dalam pembangunan industri magnet dan fasilitas pemurnian mineral agar dapat memberikan nilai tambah optimal bagi ekonomi nasional," ujar Brian di Kompleks Istana Kepresidenan.

Sebagai BUMN yang berada di bawah naungan Danantara, Perminas mendapatkan mandat untuk memimpin upaya hilirisasi dan eksplorasi mineral kritis di Tanah Air. Melalui sinergi internasional ini, pemerintah berharap Indonesia dapat menguasai rantai pasok teknologi mineral masa depan yang krusial bagi industri energi terbarukan dan teknologi tinggi global.