BPJS Kesehatan baru saja memaparkan Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan tahun 2025 dalam agenda Public Expose di Jakarta. Dalam pemaparannya, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menekankan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berevolusi menjadi instrumen vital dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan memiliki daya saing tinggi di kancah global.
Hingga penutup tahun 2025, cakupan kepesertaan JKN telah menyentuh angka 282,7 juta jiwa, atau setara dengan 98,62 persen dari total populasi Indonesia. Tingginya angka pemanfaatan layanan yang mencapai 1,9 juta kasus setiap harinya menjadi indikator kuat tingginya kepercayaan publik terhadap sistem jaminan kesehatan ini. Respons positif ini didukung oleh optimalisasi transformasi digital, mulai dari aplikasi Mobile JKN hingga layanan administratif melalui kanal WhatsApp dan Care Center.
Dari sisi tata kelola keuangan, BPJS Kesehatan melaporkan kondisi Dana Jaminan Sosial (DJS) yang sehat dan akuntabel. Dengan aset bersih mencapai Rp30,04 triliun per 31 Desember 2025, lembaga ini dipastikan mampu memenuhi estimasi pembayaran klaim hingga 1,88 bulan ke depan sesuai regulasi yang berlaku. Komitmen terhadap transparansi dan integritas ini ditegaskan oleh Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, sebagai tanggung jawab fundamental dalam mengelola dana publik.
Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menegaskan pentingnya memandang pembiayaan kesehatan sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, ketahanan finansial dalam sistem JKN merupakan kunci utama untuk membangun modal manusia yang berkualitas. Ia pun mendorong adanya kolaborasi strategis antara pemerintah, sektor swasta, dan fasilitas kesehatan guna memastikan keberlanjutan program melalui prinsip gotong royong yang lebih efisien.